Fashion | Indonesian Culture | Love | Life | Inspirations

©2018 by Era Soekamto

Congdrosengkolo




Pujangga besar Ranggawarsita mengatakan bahwa Nusantara akan kembali berjaya saat codex Candra Sengkala terbaca Pendhawa Mulat Sirnaning Temanten. 

Candra Sengkala adalah pernyataan angka tahun, penyebutan sebuah tahun didasarkan pada watak (sifat) bilangan. Sengkalan digunakan untuk menuliskan tahun terjadinya sebuah peristiwa,  karenanya digunakan kata-kata dan objek visual untuk menggantikan angka-angka dari 0-9. Pendhawa Mulat Sirnaning Temanten merupakan sengkalan yang merujuk kepada tahun 2025. Selain makna harfiah tersebut, sengkalan ini memiliki makna yang lebih dalam yakni soal penyatuan mikrokosmos dan makrokosmos. 

Manusia adalah miniatur alam semesta. Apa yang terjadi di alam semesta ini sesungguhnya terjadi  pula di dalam diri manusia. Karenanya dapat dikatakan bahwa manusia lebih besar dari alam jagad raya. Sebab sebagai perwujudan alam semesta, yang terlihat besar dan tak terhingga itu juga berada di dalam tubuh mungil manusia.

Dalam pengetahuan tradisional Jawa dan Sunda, manusia disebut sebagai Jagat Alit (buana/bawana alit, mikrokosmos, atau alam kecil). Sedangkan semesta (universe) disebut sebagai Jagat Gede (buana/bawana ageng, makrokosmos, atau alam raya). Keseluruhan inti dan ruh semesta yang terletak di dalam diri setiap manusia, menjadikan manusia sebagai Jagat Alit hadir untuk menyeimbangkan Alam Semesta. Meski secara lahiriah Jagat Alit merupakan bagian dari Jagat Gede, tapi sesungguhnya Jagat Alit-lah yang "merangkum" Jagat Gede. Semua sifat semesta berkumpul dan bersemai di Jagat Alit, sehingga tidak salah jika Jagat Alit sering disebut sebagai miniatur Jagat Gede. 

Selain saling melengkapi satu sama lain, kedua jagat ini juga selalu saling memengaruhi. Seperti bumi dan langit, kebaikan dan keburukan, cahaya dan kegelapan. Seperti Yin dan Yang. Setiap gejolak yang terjadi di Jagat Alit akan memengaruhi perjalanan makrokosmos. Pun, begitu sebaliknya, segala sesuatu yang terjadi di Jagat Gede akan berpengaruh terhadap eksistensi Jagat Alit. Akan tetapi, Jagat Alit-lah yang paling bertanggung jawab untuk menjaga agar interaksi di antara makrokosmos dan mikrokosmos tidak menjelma menjadi bencana melainkan justru kebahagiaan. Tugas memelihara keseimbangan (harmoni) alam semesta terletak di pundak Jagat Alit, karena Jagat Gede lebih cenderung bersikap pasif. Jagat Gede hanyalah hardware (perangkat keras) sedangkan Jagat Alit merupakan software-nya (perangkat lunak). Sehingga Jagat Alit-lah yang harus senantiasa aktif. 

Alam semesta tersusun dari pola berulang yang menghasilkan mikro-struktur dan super-struktur  pemersatu bermotif simetri. Pola berulang ini menjadi dasar atau model yang diulang pada skala  yang lebih besar untuk menghasilkan objek yang lebih besar atau juga untuk menunjukkan pola dasar yang sama pada serangkaian peristiwa. Ini lah yang kita kenal sebagai Geometri Suci (Sacred 

Geometry).




Geometri Suci merupakan cetak biru Penciptaan dan asal-usul semua bentuk. Ia mengeksplorasi dan menjelaskan pola energi yang membuat dan menyatukan segala sesuatu. Ia juga mengungkap bagaimana cara energi Penciptaan mengatur dirinya sendiri. Para leluhur meyakini bahwa Gemoteri Suci merupakan pola-pola simbolik dari dunia batin dan struktur halus di dalam kesadaran.

Prinsip Geometri Suci banyak digunakan dalam keyakinan agama, filsafat, dan spiritual di berbagai budaya sepanjang sejarah. Ia sering muncul dalam seni bangunan, terutama di dalam struktur rumah ibadah, seperti: gereja, mesjid, kuil kuno Yunani, maupun piramida Mesir. Seni bangunan Nusantara juga tidak lepas dari prinsip ini. Geometri Suci dapat terlihat  muncul dalam struktur bangunan candi, pola hiasan di keraton-keraton, rumah-rumah  tradisional. 



Sengkalan Pendhawa Mulat Sirnaning Temanten dapat juga bermakna kumpulan orang yang mampu membuka rahasia pengantin. Pengantin di sini maksudnya adalah penyatuan kedua jagat yang dikenal sebagai Jagat Ageng dan Jagat Alit. Dari penyatuan kedua jagat inilah lahir dua konsep tertinggi di dalam spirtualisme, yaitu Manunggaling Kawula Gusti dan Sangkan Paraning Dumadi.

Condrosengkolo Iwan Tirta Private Runway Collection 2017 akan hadir dengan rancangan yang terinspirasi dari sengkalan tersebut. Berfokus kepada manusia sebagai Jagat Alit yang berperan  aktif dalam harmonisasi alam semesta, Condrosengkolo hadir dengan visual penyatuan kedua jagat.  Keduanya tergabung dalam setiap kronogram, baik yang tersurat maupun tersirat, di dalam batik sebagai simbol semesta. Pencapaian tertinggi keselarasan antara manusia dan alam semesta akhirnya akan mengerucut kepada Tuhan Semesta Alam, Tuhan yang meliputi segala sesuatu. Karena segala hal yang berasal dari Tuhan hendaknya akan kembali kepada Tuhan jua. Sebuah esensi tertinggi dari Bhinneka Tunggal Ika, warisan budaya Nusantara.